MENGUNGKAP BENANG MERAH KEBUDAYAAN SUNDA DAN PERADABAN KERAJAAN GALUH

Bookmark and Share
                    Secara umum, masyarakat Jawa Barat atau Tatar Sunda, sering dikenal dengan masyarakat yang memiliki budaya religius. Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo "silih asih, silih asah, dan silih asuh" (saling mengasihi, saling mempertajam diri, dan saling memelihara dan melindungi). Di samping itu, Sunda juga memiliki sejumlah budaya lain yang khas seperti kesopanan (handap asor), rendah hati terhadap sesama; penghormatan kepada orang tua atau kepada orang yang lebih tua, serta menyayangi orang yang lebih kecil (hormat ka nu luhur, nyaah ka nu leutik); membantu orang lain yang membutuhkan dan yang dalam kesusahan (nulung ka nu butuh nalang ka nu susah), dsb.

                  Tradisi (budaya) saling asih sangat berperan dalam menyegarkan kembali manusia dari keterasingan dirinya dalam masyarakat sehingga citra dirinya terangkat dan menemukan ketenangan. Ini merupakan sumber keteraturan, kedinamisan, dan keharmonisan masyarakat sebab manusia yang terasing dari masyarakatnya cenderung mengalami kegelisahan yang sering diikuti dengan kebingungan, penderitaan, dan ketegangan etis serta mendesak manusia untuk melakukan pelanggaran hak dan tanggung jawab sosial.
 Budaya masyarakat sunda melulai cikal bakalnya dari kerajaan sunda dan kerajaan galuh, kerajaan yang bersumber dan bernapak tilas di jawa barat, secara naluriah, budaya sunda pasti sudah diamalkan dan di terapkan di dua kerajaan terseut.

                  Secara sejarah, kerajaan sunda dan kerajaan galuh merupakan pecahan dari kerajaan taumaNegara. Seiring berjalannya waktu, kebudayaan sunda dan sejarahnya begitu banyak mengalami dinamika yang pada saat tertentu akan meruntuhkan kepercayaannya terhadap asal-usulnya.
 Dinamika-dinamika tersebut kerap kali mendatangkan kontrofersi, ada yang mempercayainya dan ada pula yang membantahnya, salah satu hal yang masih hangat di perbincangkan saat ini adalah wujud dari kerajaan sunda dan wujud dari prabu siliwangi. Salah seorang sastrawan terkenal sunda yang di beri gelar doctor honoris cousa oleh rector universitas padjajaran menyimpulkan dalam sebuah seminar bahwa ternyata, wujud dari prabu siliwangi hanya ada dalam cetira rakyat atau pantun saja. Pasti hal ini tidak bisa langsung diteima akal sehat karena nama prabu siliwangi begitu fenomenal pada masyarakat sunda, hingga nama-nama tempat, bangunan dll dinamai sebagai siliwangi.

                 Menurut suatu dokumen bernama Carita Parahyangan (yang belum semua sejarawan mengakui keotentikannya), Kerajaan di Jawa Barat tidak pernah putus sejak Tarumanegara, Kendan, Galuh, Sunda dan akhirnya Pajajaran. Bahkan menurut dokumen itu, Sanjaya pendiri mataram Hindu adalah keturunan Galuh (bapak Sanjaya adalah anak hasil perselingkuhan permaisuri Galuh,yang kemudian menikah dengan Ratu Kalingga di Jawa Tengah).

                Harus diwaspadai bahwa Galuh yang terkenal berlokasi di antara Garut dan Kawali itu adalah sebuah kerajaan yang pindah dari sekitar lereng Gunung Slamet yang dikenal sebagai Kerajaan Galuh Purba. Perpindahan ini terjadi sekitar abad ke 6-7 M. Dari kawasan Garut-Kawali baru mereka pindah ke pusat Padjadjaran pada 1300-an M. Dua kali perpindahan ini tercatat di Prasasti Bogor.

              Maka, Galuh bukan asli Sunda, tetapi asli sekitar Banyumas sekarang. Kalau kita buka peta yang cukup detail akan banyak tempat dengan nama Galuh di sekitar perbatasan Jabar-Jateng : Rajagaluh (Cirebon), Galuh (Purbalingga), Galuhtimur (Bumiayu), Sirahgaluh (Cilacap), bahkan di Kulonprogo dekat perbatasan Kedu ada desa Samigaluh. Diduga keras bahwa semua tempat tadi pada masa lampaunya pernah dikuasai Galuh Purba.

               Van der Meulen (1988) : Indonesia di Ambang Sejarah – Kanisius, punya tesis bagaimana bangsa Galuh memasuki Jawa Tengah. Tesisnya ini belum ada yang menentang di kalangan para ahli sejarah. Katanya, mula2 bangsa Galuh ini adalah pendatang dari Kutei, dari kerajaan Hindu pertama di Indonesia, atau turunan2 sebelum Mulawarman, Kudungga – yang bukan Hindu. Bangsa Galuh ini masuk ke Jawa melalui pantai sekitar Cirebon sebelum abad ke-5. Lalu mereka masuk makin dalam melalui lereng barat Ciremai, masuk ke aliran Citanduy akhirnya menduduki lereng2 Slamet dan lembah Kali Serayu. Ada yang memilih menetap di sekitar Ciremai, dan kelak mereka ikut mendirikan budaya Sunda.

                   Tetapi yang di lereng2 Slamet dan lembah Serayu, utara Banyumas, mereka mendirikan Kerajaan Galuh purba (untuk membedakannya dengan Galuh Garut-Kawali yang merupakan pindahannya). Sumber2 Cina menyebut kerajaan Galuh Purba ini “Topoteng”. Berdasarkan catatatan resmi Kekaisaran Cina Dinasti Tang, selama periode 627-649 kerajaan Holing (Kalingga – kelak Ratu Sima) di Jawa bersama dengan dua kerajaan tetangganya, Topoteng (Galuh Purba) dan Dwapatan (tanpa penjelasan) mengirim utusan2 ke Cina. Ratu Sima memerintah Kalingga pada 674 M.

               Berdasarkan babad Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara (tulisan Pangeran Wangsakerta dari Cirebon), pada abad ke-7 dan ke-8 ada tiga wangsa : Kalinggawangsa, Sanjayawangsa, Sailendrawangsa) (keterangan yang sama disampaikan pula oleh Fruin-Mees : Geschiedenis van Java, 1919, p. 16-20). Kelihatannya Galuh Purba saat itu sudah menurun pamornya dan mungkin saja sudah pindah ke Garut-Kawali, tersingkir oleh leluhur Sailendra.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar